Bekerja sebagai telemarketing, Tania (Wiwid Gunawan), hidup dalam keadaan tertekan. Pekerjaannya sering lebih sering gagal daripada berhasil untuk menggaet nasabah baru. Gara-gara penampilannya yang biasa dan tak merias diri, tidak ada satu pun cowok yang tertarik padanya.
Cintanya kepada atasannya Jordy (Famly) pun bertepuk sebelah tangan gara-gara kalah saingan dengan rekan sekerjanya Grace (Kartika Putri). Tekanan lain dirasakannya ketika pulang ke rumah. Ibunya (Bella Espearance) sakit hingga tidak bisa bangun dari tempat tidur.
Sang ibu, membenci Tania karena menganggap Kania adalah penyebab kematian suaminya. Tania hidup dengan sumpah serapah ibunya. Bahkan kasih sayang yang diberikan pada ibunya juga ditolak. Sering mendapat perlakuan kasar dan kata-kata penghinaan, Tania semakin menutup diri. Tak hanya itu, Tania sering menyakiti diri sendiri jika sedang jengkel dan kecewa.
Suatu saat, Grace diangkat menjadi supervisor berkat kerjanya yang cemerlang. Keberhasilannya juga membuat Jordy tidak bisa menolak untuk dekat dengan Grace. Sementara Tania dengan prestasi sedang-sedang saja semakin terpuruk. Apalagi Grace sering mengancam dengan kata-kata kasar pada Tania. Melihat kedekatan Grace dan Jordy, Tania cemburu. Di kamar mandi, Tania menyakiti tubuhnya.
Tak mau terpuruk terus-menerus, Tania mendatangi, Janet (Nikita Mirzani), tetangganya yang terkenal jago memikat pria. Janet memoles wajah Tania menjadi lebih cantik. Tania senang karena perubahannya mendapat pujian dari Jordy. Grace yang tidak senang dengan perubahan itu menyiksa Tania. Agar lebih percaya diri, Janet menganjurkan Tania menggunakan Tali Pocong Perawan sebagai pembuka aura kecantikannya. Sesaat memang Jordy langsung terpikat. Tania sangat percaya diri, Grace yang selama ini mengancamnya diancam balik. Namun, Tani tak menyangka tali pocong yang diambilnya menyebar teror. Siksaan tak hanya menghampiri Tania tapi juga orang-orang di sekitarnya. Tani berusaha keluar dari teror tersebut.
Review
Film yang mulai 18 Oktober 2012 ini nampak memperhatikan detail cerita. Mulai dari awal hingga akhir cerita bisa diikuti. Akting Wiwid Gunawan juga tidak bisa diremehkan dalam film ini. Tampil dengan tiga karakter berbeda, lugu, psiko, dan percaya diri, Wiwid mampu bertransformasi dengan baik di setiap bagian perannya.
Volkan Maida tampak berusaha memaksimalkan setiap pemain dalam filmnya. Kartika Putri yang menjadi tokoh antagonis juga menunjukkan kebengisan yang memperkuat rasa putus asa Wiwid. Chemistry Wiwid dan Bella Esperance juga terjaga dari awal hingga akhir cerita. Bella, memberi kejutan-kejutan yang apik. Dengan musik yang tertata, penonton bisa merasakan teror yang dirasakan pemain di film.
Meskipun cerita besarnya berjalan mulus, ada beberapa titik yang terlihat dipaksakan. Seperti kematian Grace karena tertusuk paku dari belakang. Paku kecil, tapi langsung mati? Mungkin pakunya berkarat 2000 tahun, hehehehe. Memang masih ada saja usaha Ody Mulya selaku produser untuk menonjolkan keseksian pemain dalam filmnya. Kali ini Ody mencoba lebih “halus” dengan memberi alasan untuk adegan seksi yang ditampilkan. Benarkah keseksian menjadi pemikat untuk menarik minat penonton ke bioskop? Anda sendiri yang bisa menjawabnya.